MAMUJU — Penangguhan atau pemblokiran layanan administrasi Kepegawaian Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar) diwarnai kritik. Lingkar Literasi Intensif Mamuju kembali melontarkan komentarnya terhadap kebijakan Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Ray Akbar Ramadhan, SE., MM selaku Ketua Lingkar Literasi Intensif Mamuju menilai bahwa kebijakan yang seharusnya menjadi jalan keluar berubah menjadi tembok penghalang bagi hak-hak yang sah.
“Pemblokiran layanan ASN bukanlah tanda ketegasan, melainkan bayangan dari kegamangan yang diselubungi keputusan tanpa hikmah,” kata Ray Akbar Ramadhan dalam tulisannya kepada media. Jum’at (3/4/2026).
“Apakah engkau mengira bahwa kekuasaan adalah perisai dari pertanggungjawaban? Tidak. Ia justru adalah cahaya yang menyingkap siapa yang adil dan siapa yang bersembunyi dari keadilan. Maka, ketika seorang pemimpin memilih jalan yang menyulitkan banyak orang tanpa alasan yang jernih, di situlah tampak bahwa keberanian telah digantikan oleh kepengecutan yang terbungkus formalitas,” sambungnya.
Baca Juga : Pernyataan Sikap Ketua Lingkar Literasi Intensif Mamuju Soal Layanan Kepegawaian di BKN; Menolak Pemblokiran
Ray sapaan akrab Ketua Lingkar Literasi Intensif Mamuju menyinggung soal kebijakan yang lahir tanpa kebijaksanaan. Hal itu akan menjadi beban bagi rakyat.
“Ketahuilah, kebijakan yang lahir tanpa kebijaksanaan adalah beban bagi rakyat, dan setiap beban yang dipaksakan tanpa nurani akan kembali menjadi pertanyaan yang menuntut jawaban, bukan di hadapan manusia saja, tetapi juga di hadapan Yang Maha Mengetahui segala isi hati,” ungkap Ray dalam keterangan tertulisnya.
“Maka, janganlah engkau bangga dengan keputusan yang membuat banyak orang terdiam, sebab diamnya mereka bukan tanda persetujuan, melainkan akumulasi dari kekecewaan yang menunggu waktu untuk bersuara,” lanjutnya.
Baca Juga : ‘Coretan’ Ray Akbar Ramadhan Soal UMKM di Ibu Kota Sulbar
Lebih lanjut, di ujung kritikannya Ketua Literasi Insentif Mamuju memberikan penegasan terkait pengambilan kebijakan. Disampaikan, jika ingin dikenal sebagai pemimpin, maka dengarkan sebelum memutuskan, timbang sebelum menetapkan, dan rasakan sebelum memerintahkan.
“Karena sesungguhnya, keputusan tanpa hikmah hanyalah bayangan dari kekuasaan yang rapuh,” tegas Ray.
“Dan ketahuilah, kesabaran bukanlah kelemahan, dan ketenangan bukanlah ketakutan. Ada batas di mana diam berubah menjadi sikap, dan sikap menjelma menjadi perlawanan yang tak dapat dibendung. Jangan main-main dengan orang Mandar,” pungkasnya.



















