Example 728x250

Qurban dan Tiga Kerajaan dalam Diri Manusia

Foto: Wahyu Santoso. (Ist)

Cakrawala9.com Sejarah manusia kerap dibaca sebagai rangkaian perang dan perebutan kekuasaan. Dari satu peradaban ke peradaban lain, konflik hadir dalam pola yang nyaris sama: wilayah, sumber daya, dan dominasi politik.

Namun di era modern, medan perang itu berubah bentuk. Ia tidak lagi selalu tampak sebagai benturan senjata, melainkan persaingan jabatan, citra diri, dan pengakuan sosial.

Di balik semua itu, ada satu pertarungan yang tidak pernah selesai: perang manusia melawan dirinya sendiri.

Ego di Dunia yang Terus Menatap Balik

Kehidupan modern ditandai oleh keterhubungan yang nyaris total. Manusia tidak hanya hidup, tetapi juga ditampilkan, dinilai, dan dibandingkan secara terus-menerus.

Dalam situasi ini, batas antara kebutuhan dan pengakuan menjadi kabur. Orang bekerja bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk terlihat berhasil. Relasi sosial berubah menjadi arena kompetisi halus. Bahkan ruang spiritual, dalam beberapa kasus, ikut terseret dalam logika pencitraan.

Fenomena ini mengingatkan pada dunia politik dalam Romance of the Three Kingdoms. Tiongkok kuno tidak hanya terpecah karena perang, tetapi juga karena benturan ambisi, loyalitas, dan strategi kekuasaan yang saling menegasikan.

Namun jika dibaca lebih dalam, kisah itu bukan sekadar sejarah. Ia adalah peta konflik batin manusia: antara dorongan untuk menguasai, diakui, dan merasa aman.

Di titik ini, qurban tidak cukup dipahami sebagai ritual. Ia adalah konsep “mendekat melalui pelepasan”.

Secara bahasa, qurban berakar pada makna kedekatan. Dalam praktiknya, ia tidak hanya berbicara tentang penyembelihan hewan, tetapi juga pemotongan keterikatan manusia terhadap apa yang paling ia cintai.

Dengan demikian, qurban bukan peristiwa tahunan. Ia adalah mekanisme spiritual untuk “menyembelih” struktur dalam diri manusia yang diam-diam menguasainya.

Struktur itu, dalam pembacaan simbolik, dapat dilihat sebagai tiga kerajaan batin: Wei, Shu, dan Wu.

  • Wei: Ambisi yang Tidak Pernah Kenyang

Watak Wei terproyeksi pada diri Cao Cao—tokoh yang menjadikan kecerdasan, disiplin, dan ambisi sebagai fondasi kekuasaan di tengah kekacauan Three Kingdoms. Ia tidak sekadar bertahan dari pergolakan zaman, tetapi aktif membentuk arah kekuasaan melalui strategi, kendali, dan kemampuan membaca kelemahan lawan. Dalam pandangannya, stabilitas hanyalah tahap awal menuju posisi yang lebih tinggi dan lebih kuat.

Di tangan Cao Cao, ambisi berubah menjadi kebutuhan untuk terus melampaui batas. Kekuasaan tidak dipahami sebagai alat menjaga ketertiban semata, melainkan sarana memperbesar pengaruh dan memastikan dominasi tetap terjaga. Dunia dipandang sebagai arena persaingan yang menuntut seseorang terus bergerak maju agar tidak tersingkir oleh mereka yang lebih cepat dan lebih kuat.

Semangat Wei masih menemukan bentuknya dalam kehidupan modern. Ia hadir dalam perlombaan mengejar jabatan, kekayaan, popularitas, dan pengakuan sosial. Manusia tidak lagi sekadar ingin hidup layak, tetapi juga ingin diakui lebih unggul dibanding yang lain. Dalam masyarakat yang semakin kompetitif, pencapaian perlahan menjadi ukuran utama harga diri dan keberhasilan seseorang.

Namun, ambisi yang terus dipacu tanpa batas sering kali melahirkan kehampaan yang sunyi. Ketika hidup hanya diukur dari kemenangan dan pengakuan, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk merasa cukup. Pada titik itu, kekuasaan dan pencapaian tidak lagi membebaskan, melainkan justru mengurung manusia dalam perlombaan yang tidak pernah selesai.

Erich Fromm menyebut kecenderungan ini sebagai pergeseran dari “being” menuju “having”—dari keberadaan menuju kepemilikan. Manusia tidak lagi ingin menjadi, tetapi ingin memiliki lebih banyak agar diakui lebih tinggi.

Di titik ini, ambisi tidak lagi menjadi energi tumbuh, melainkan dorongan untuk selalu melampaui orang lain.

Qurban memutus logika ini secara simbolik: bahwa yang dianggap paling berharga pun tidak selalu harus dipertahankan. Selaras dengan apa yang pernah ditulis Laozi, yang menaklukkan orang lain memang kuat, tetapi yang menaklukkan dirinya sendiri jauh lebih kuat.

  • Shu: Ketika Kebaikan Menjadi Cermin Diri

Shu kerap dipahami sebagai wajah moralitas dalam Three Kingdoms. Liu Bei membangun legitimasi melalui kesetiaan, keadilan, dan citra kepemimpinan yang bermoral.

Namun moralitas tidak selalu netral.

Kebaikan dapat berubah menjadi cara untuk dilihat sebagai orang baik. Memberi untuk dikenang. Berkorban untuk diakui.

Dalam tradisi tasawuf, Hamka mengingatkan bahwa riya’ tumbuh ketika amal tidak lagi bebas dari keinginan untuk mendapat pengakuan.

Di titik ini, qurban bekerja lebih dalam: bukan hanya pelepasan materi, tetapi juga pelepasan ego moral—keinginan untuk selalu tampak suci, benar, dan lebih tinggi secara spiritual.

Yang disembelih bukan hanya simbol hewan, tetapi juga klaim atas kesempurnaan diri.

Mungkin di sinilah ujian paling halus itu berada: berbuat baik tanpa menjadikan diri pusat dari kebaikan itu sendiri.

  • Wu: Kenyamanan yang Pelan-Pelan Melupakan Arah Pulang

Wu menemukan wajahnya pada Sun Quan—penguasa yang tidak selalu paling agresif, tetapi mampu menjaga stabilitas paling lama di tengah kekacauan Three Kingdoms.

Ia bukan simbol ambisi tanpa batas seperti Cao Cao, juga bukan simbol legitimasi moral seperti Liu Bei. Kekuatan Wu justru terletak pada kemampuan bertahan, menjaga keseimbangan, dan menciptakan rasa aman.

Dalam kehidupan modern, Wu hadir dalam bentuk lain: kenyamanan.

Hidup yang semakin mudah, cepat, dan terhubung menciptakan ruang aman yang perlahan tidak lagi dipertanyakan. Hiburan tersedia tanpa jeda. Informasi mengalir tanpa henti. Dan manusia mulai terbiasa hidup tanpa gangguan yang memaksa refleksi.

Meminjam sudut pandang Seyyed Hossein Nasr dalam E-Jurnal UNISNU yang disusun oleh Taufik Hidayatulloh, Nasr menilai modernitas dengan berkembangnya teknologi memang menghadirkan kemudahan hidup, tetapi juga berpotensi menjauhkan manusia dari dimensi spiritual dan makna terdalam kehidupannya.

Segala sesuatu menjadi mudah diakses, tetapi tidak selalu bermakna.

Di sini, qurban hadir sebagai gangguan yang disengaja. Ia memutus keterikatan agar manusia kembali sadar bahwa tidak semua hal harus dimiliki untuk tetap hidup.

Nabi Muhammad ﷺ menyebut dunia sebagai penjara bagi orang beriman—bukan penolakan terhadap kehidupan, tetapi pengingat agar manusia tidak berhenti pada kenyamanan.

Sebab ketika kenyamanan menjadi tujuan akhir, manusia perlahan kehilangan arah pulang.

Penutup: Menyembelih Tiga Kerajaan dalam Tiga Hari Tasyrik

Jika dibaca sebagai sejarah, Three Kingdoms adalah kisah perpecahan kekuasaan. Tetapi sebagai metafora, ia adalah peta konflik yang terus hidup dalam diri manusia.

Wei adalah ambisi, Shu adalah moralitas, dan Wu adalah kenyamanan.

Ketiganya tidak saling menggantikan, melainkan hidup bersamaan dalam diri manusia modern—membentuk medan perang yang tidak terlihat, tetapi aktif setiap hari.

Dalam kerangka ini, qurban dapat dibaca sebagai proses yang tidak selesai dalam satu hari, melainkan bergerak bertahap seperti tiga hari tasyrik yang menyertainya.

  1. Hari pertama berhadapan dengan Wei: keinginan untuk menguasai dan memiliki. Yang disembelih adalah ilusi bahwa nilai diri ditentukan oleh apa yang dimiliki.
  2. Hari kedua berhadapan dengan Shu: kebaikan yang mencari pengakuan. Yang dilepaskan adalah kebutuhan untuk selalu terlihat benar dan lebih tinggi secara moral.
  3. Hari ketiga berhadapan dengan Wu: kenyamanan yang menumpulkan kesadaran. Yang dikorbankan adalah keterikatan paling halus—rasa aman yang membuat manusia lupa bertanya ke mana ia pulang.

Dengan demikian, qurban tidak berhenti sebagai ritual penyembelihan, tetapi menjadi latihan bertahap untuk menyembelih tiga kerajaan dalam diri manusia.

Pada akhirnya, kemenangan paling sunyi bukan ketika manusia menguasai dunia, tetapi ketika ia tidak lagi dikuasai oleh dirinya sendiri.

Mamuju, 30 Mei 2026

Oleh: Wahyu Santoso

Sekertaris Umum Lingkar Literasi Intensif (Lintas) Mamuju

Example 728x250 Example 728x250
Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250