Example 728x250

Kalukku, Roda Kebaikan, dan Senyum Mbah Parni

Sebuah Esai Reflektif: Bekerja dalam Diam dan Upaya Menjaga Fitrah Kemanusiaan

Foto: Mbah Parni bersama Relawan Merah-Putuh Kalukku. (Ist)

Risalah Para “Nabi Sosial” Relawan Merah-Putih Kalukku

Ada kebaikan yang tidak datang dengan suara keras. Mereka tidak mengumumkan dirinya, tidak meminta sorotan, apalagi tepuk tangan.

Mereka bekerja seperti roda—pelan, berulang, kadang terseok, tapi selalu bergerak. Dan justru karena mereka bergerak, banyak hal berubah tanpa harus terlihat megah.

Di sebuah sudut kehidupan yang sering luput dari perhatian, kebaikan itu sering hadir dalam bentuk paling sederhana: sebuah bantuan yang tepat waktu, sepotong empati yang tidak diminta, atau sekadar kesediaan untuk mendengar tanpa menghakimi.

Kita sering mengira perubahan besar lahir dari keputusan besar. Padahal, banyak kehidupan berubah hanya karena satu tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan penuh.

Dari Kalukku, roda itu hari ini tidak lagi sekadar metafora. Mereka hadir dalam bentuk sebuah kursi roda dan sekarung beras yang tiba di sebuah rumah sederhana, di tengah hujan malam yang turun tanpa jeda.

Malam itu Kalukku diguyur hujan yang tidak sekadar turun, tetapi seperti menetap. Jalan desa basah, gelap menempel di setiap sudut, dan suara air jatuh menjadi latar yang tak henti. Namun di balik dinding rumah sederhana, justru terjadi sesuatu yang berbeda: kehangatan yang tidak berasal dari cuaca, melainkan dari sebuah kedatangan yang berasal dari sebuah harapan (Senin, 8 Juni 2026)

Kursi Roda dan Senyum yang Merekah

Bagi sebagian orang, itu hanyalah alat bantu. Benda besi dengan roda yang bisa dipindahkan. Tetapi bagi Mbah Parni, itu adalah “kaki baru” yang pelan-pelan mengembalikan ruang hidup yang sempat menyempit. Untuk keluarganya, itu adalah jawaban dari doa yang tidak selalu diucapkan keras-keras, tetapi disimpan lama di dalam dada.

Di baliknya, Relawan Komunitas Merah Putih Kalukku bekerja tanpa panggung. Tidak ada seremoni, tidak ada publikasi besar. Hanya kunjungan ke rumah-rumah warga, percakapan pelan dengan keluarga lansia, dan catatan-catatan kecil tentang siapa yang benar-benar membutuhkan bantuan, dokumentasi hanya sebagai laporan perta.

Ada kerja yang tidak tampak: memilah, memastikan, dan menimbang dengan hati-hati agar kebaikan tidak salah arah. Karena pada realitas, kebutuhan manusia tidak pernah sesederhana daftar nama.

Roda itu Tiba di Simbuang

Senin, 8 Juni 2026 pukul 18.33 WITA. Dalam video yang dikirimkan kepada relawan, terlihat kursi roda itu sudah berada di dalam rumah. Mbah Parni duduk perlahan, dibantu tangan-tangan yang selama ini bekerja tanpa banyak cerita.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada momen yang dibuat berlebihan. Hanya kesederhanaan yang justru terasa paling jujur: seorang lansia yang akhirnya bisa kembali bergerak, meski dengan bantuan, setelah sekian lama bergantung pada orang lain.

Di sekelilingnya, hujan malam masih jatuh. Tapi di dalam rumah itu, sesuatu terasa lebih ringan.

Bersamaan dengan kursi roda untuk Mbah Parni, beberapa karung beras juga disalurkan kepada lansia lain yang telah terdata sebelumnya. Tidak besar jumlahnya, tidak pula cukup untuk mengubah hidup secara total. Tetapi kebaikan kecil sering kali bekerja seperti jeda napas—memberi ruang untuk bertahan satu minggu lagi, satu hari lagi, satu malam tanpa terlalu dihimpit khawatir.

Mbah Parni sendiri tidak banyak bicara—sebab usianya yang renta ia tak lagi fasih berbahasa Indonesia—ia tersenyum pada kursi roda barunya. Bukan senyum yang ditujukan pada siapa pun, bukan pula untuk dipahami orang lain—melainkan senyum yang tumbuh pelan dari dalam dirinya sendiri, seperti embun yang akhirnya berani jatuh setelah lama menggantung di langit yang letih.

Dan mungkin di situlah inti dari roda kebaikan itu: mereka tidak selalu mengubah hidup secara dramatis, tetapi mereka mengembalikan sesuatu yang lebih halus—rasa bahwa hidup masih bergerak.

“Matur Nuwun, ya Nduk, Le. Terima Kasih” ucap mbah Parni kepada Ruqaiyah.

Kita sering mengira perubahan besar lahir dari keputusan besar. Padahal, banyak kehidupan berubah hanya karena satu tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan yang tidak banyak bicara. Roda itu tidak pernah benar-benar dimiliki satu orang. Ia selalu berpindah—dari tangan ke tangan, dari hati ke hati.

Seperti yang pernah diingatkan Nelson Mandela:

“What counts in life is not the mere fact that we have lived. It is what difference we have made to the lives of others that will determine the significance of the life we lead.”

— Nelson Mandela, Teks Pidato Ulang Tahun Walter Sisulu (2002)

Sebuah pengingat bahwa hidup tidak diukur dari lamanya kita berjalan, melainkan jejak apa yang tertinggal di belakang langkah itu.

Dan pada malam yang basah di Simbuang itu, perbedaan itu tidak hadir dalam bentuk besar. Mereka hadir dalam bentuk yang sederhana: sebuah kursi roda, beberapa karung beras, dan seorang Mbah Parni yang kembali tersenyum di usia senjanya.

Roda itu Kembali Berputar

Di luar, jemari awan masih menaburkan hujan yang lembut, seolah bumi sedang disentuh perlahan agar tidak terlalu kesepian. Roda kebaikan itu tidak berhenti di rumah Mbah Parni. Dalam perjalanan pulang menuju homebase mereka di Kalukku, mereka masih menyisakan jejak di beberapa titik—berhenti sejenak, lalu menitipkan kebaikan yang sederhana namun hangat.

Di Karema, sebuah sudut jalan poros Mamuju–Topoyo yang basah, mereka bertemu seorang bapak yang duduk termenung di bawah rintik hujan. Di depannya, sebuah becak terdiam seperti tubuh yang kelelahan. Pandangannya kosong, namun dalam kosong itu tersimpan hari-hari panjang yang terus ia kayuh untuk menjemput rezeki yang tak selalu pasti.

Sekarung beras diserahkan. Tidak banyak kata, hanya pertemuan singkat antara tangan yang memberi dan tangan yang menerima. Namun justru di sanalah bahasa paling jujur bekerja—yang tak perlu dijelaskan, hanya dirasakan.

Dan seperti yang terjadi di rumah Mbah Parni, senyum itu kembali muncul. Senyum yang tak dibuat-buat, yang lahir dari ruang kecil di dada ketika beban mendadak terasa sedikit lebih ringan. Wajah renta Mbah Parni seolah memantul di wajah bapak itu—seperti satu kebaikan yang menemukan cermin pada hidup orang lain.

Mereka pun kembali berjalan, meninggalkan hujan yang masih jatuh perlahan, sementara di belakang mereka, dunia untuk sesaat terasa sedikit lebih ramah daripada sebelumnya.

Oleh: Wahyu Santoso

Sekretaris Umum Lingkar Literasi Intensif

Example 728x250
Penulis: Wahyu Santoso
Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250