Mamuju — Nyala api kecil tampak di bawah Bundaran Jalan Yos Sudarso, pusat Kota Mamuju. Dua bendera dari kertas manila—Amerika Serikat dan Israel—dibakar di hadapan massa yang berkumpul menyuarakan solidaritas untuk Palestina.
Api merambat pelan di permukaan kertas hingga berubah menjadi abu. Asap tipis naik ke udara, kecil dan tidak sampai mengganggu suasana sekitar. Disekelilingnya, ratusan orang mengepalkan tangan.
“Hentikan genosida sekarang juga!” – seruan itu menggema di tengah lingkar jalan utama Kota Mamuju, memecah suasana sore Ramadan yang biasanya tenang menjelang waktu berbuka.
Simbol Kemarahan
Aksi tersebut digelar oleh barisan yang menamakan diri “Sulbar Menghapus Air Mata Duka Palestina”. Aliansi para pemuda, mahasiswa, dan masyarakat hadir membawa spanduk serta poster solidaritas.
Di tengah kerumunan, tampak pula gambar wajah Donald Trump dan Benjamin Netanyahu yang dicetak di atas kertas manila.

Gambar itu digambarkan dengan tanduk di kepala menyerupai sosok iblis—sebuah simbol yang menurut para peserta aksi, mewakili kemarahan mereka terhadap kebijakan politik yang dianggap memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.
Kertas-kertas bergambar tersebut kemudian dibentangkan di hadapan massa sebelum di sulut api hingga habis terbakar.
Suara yang Menggema dari Bak Pickup
Di sisi jalan, sebuah pickup Gran Max putih diparkir. Bak belakang kendaraan itu berubah menjadi panggung sederhana tempat orasi disampaikan.
Dari atasnya, Wahyu Santoso—jenderal lapangan aksi—menyampaikan orasi melalui pengeras suara sembari mengutip sebuah hadits Nabi.
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak tidur dan demam.” kutipnya.
Wahyu berdiri di hadapan massa aksi dan mengingatkan sebuah kenyataan yang pahit. Ia berkata, hari ini kita sedang menyaksikan bagian dari tubuh umat itu terluka. Tanah suci Palestina menjerit di bawah penindasan yang tak kunjung berhenti, dan luka itu paling terasa di Gaza.
“Di sana anak-anak kehilangan rumahnya, ibu-ibu menangisi keluarganya yang tak kembali, dan rakyat tak berdosa bertahan hidup di antara reruntuhan bangunan yang dulu mereka sebut rumah,” Lanjut Wahyu dalam orasinya. Jl. Yos Sudarso, Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.
Menurutnya, mereka bukan sekadar angka mati dalam berita atau bayangan di layar ponsel. Mereka adalah luka nyata yang mengalir di urat nadi kita sendiri. Di sana, ada bagian dari jiwa kita yang sedang merintih, menagih rasa yang mungkin mulai tumpul oleh jarak.
Sebab, baginya, kita adalah satu tubuh yang ditenun oleh pesan Rasulullah jika di satu sudut sana raga tersayat, maka semestinya seluruh batin kita ikut meriang. Luka mereka adalah pedih kita, karena dalam napas umat yang satu, tak ada rasa sakit yang benar-benar bisa diderita sendirian.
Bara di Jalan, Do’a di Langit
Saat senja jatuh di Bumi Manakarra, api yang melahap kertas-kertas manila itu perlahan padam, namun tidak dengan jiwanya. Ketika azan Magrib mulai membasuh kota, amuk massa yang tadinya membara luruh menjadi hening yang teduh.
Tangan-tangan yang tadi mengepal keras ke angkasa, kini terbuka dan menengadah pasrah. Di sela napas yang tenang, do’a-do’a dilangitkan bagi saudara di Palestina yang masih berpeluk bayang-bayang perang.
Bara di jalanan telah menjadi abu, namun api solidaritas di dada mereka tetap menyala—menunggu waktu untuk kembali lantang disuarakan.
“Terima kasih telah meminjamkan suara bagi mereka yang dibungkam. Biarlah solidaritas ini menjadi peluk yang sampai ke tanah Palestina,” ungkapnya dengan nada bergetar.

Baginya, perjuangan ini tidak akan mengenal titik henti.
“Walaupun matahari telah terbit di barat, jika genosida masih saja menimpa saudara-saudara di Palestina, maka napas kita tak kan pernah berhenti menyuarakannya. Sampai bertemu di garis perjuangan berikutnya.” pungkas Wahyu.















