MAJENE – Suasana di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Majene tampak berbeda dan jauh lebih sibuk dari biasanya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026. Usai memimpin upacara khidmat di lapangan, Bupati Majene, Dr. Andi Achmad Syukri Tammalele, SE., M.M., yang akrab disapa AST, langsung disibukkan dengan agenda menerima tamu penting hingga masyarakat umum yang datang silih berganti.
Di balik kemeriahan protokol kenegaraan, tersaji pemandangan humanis di dalam kediaman resmi tersebut. AST, yang dikenal sebagai sosok pemimpin ramah tanpa sekat golongan, terlihat berbincang hangat dengan para tamu. Meski kondisi fiskal daerah sedang dalam masa efisiensi, semangat Bupati untuk mendengar aspirasi masyarakat tidak luntur sedikit pun.
“Kami berharap Majene tetap dalam kondisi aman dan stabil. Fokus utama kami adalah memastikan kesejahteraan masyarakat secara umum tetap meningkat, meskipun kita harus beradaptasi dengan kebijakan efisiensi yang ada saat ini,” ujar AST di sela-sela kegiatannya.
Baca Juga : Tercatat Dalam Desil Satu di Majene, Lansia 76 Tahun Belum Terima Bansos
Peran Srikandi di Balik Layar
Hal menarik, pemandangan yang jarang tersorot kamera namun memegang peranan vital dalam kelancaran pelayanan di Rujab. Mereka adalah para Srikandi Rujab—tim kerja yang berada di bawah bimbingan langsung Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Majene, Hj. Najmah Bachyt Fattah, S.Ag., M.M.

Dengan penuh ketelatenan, Hj. Najmah memimpin para Srikandi ini untuk memastikan seluruh tamu, mulai dari pejabat penting hingga warga biasa yang datang memberikan dukungan, terlayani dengan sangat baik.
Pelayanan Prima, Srikandi PKK sigap mengelola konsumsi dan kenyamanan tamu. Sentuhan Keibuan Hj. Najmah memastikan setiap warga yang datang menyampaikan aspirasi merasa diterima seperti di rumah sendiri. Harmonisme Kolaborasi antara Bupati dan Istri menciptakan atmosfer pemerintahan yang kekeluargaan dan terbuka.
Komitmen untuk Masyarakat
Kehadiran masyarakat ke Rujab bukan sekadar silaturahmi, melainkan bentuk dukungan moral kepada pemerintah daerah. Meskipun AST mengakui bahwa kebijakan saat ini tidak bisa sebebas sebelum masa efisiensi, ia menegaskan bahwa pintu Rujab akan selalu terbuka bagi siapa saja.
“Pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berhenti karena keterbatasan anggaran. Ramah tamah dan mendengarkan keluhan warga adalah kewajiban yang tidak memerlukan biaya besar, namun berdampak besar bagi kedamaian daerah,” tutup Bupati AST.
Kondisi Rujab hari ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan di Majene tidak hanya dibangun di atas meja kerja, tetapi juga di atas fondasi kekeluargaan dan gotong royong antara pemimpin, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat.














